Pengertian Absensi

Absensi adalah pola kebiasaan ketidakhadiran dari tugas atau kewajiban. Secara tradisional, ketidakhadiran telah dilihat sebagai indikator kinerja individu yang malas, serta pelanggaran kontrak implisit antara karyawan dan majikan, melainkan dilihat sebagai masalah manajemen, dan dibingkai dalam hal ekonomi atau kuasi-ekonomi. Absensi dalam ketidakhadiran sebagai indikator psikologis, penyesuaian medis, atau sosial untuk bekerja.

Sering tidak adanya dari tempat kerja merupakan perilaku yang menunjukkan moral yang buruk atau sindrom malas masuk. Namun, ada beberapa perusahaan yang menerapkan kebijakan yaitu memberikan kelonggaran bagi karyawan yang melakukan absensi dikarenakan mengidap penyakit tertentu atau izin tertentu. Namun ada juga perusahaan yang tidak mengizinkan karena karyawan mengidap penyakit yang ringan dan akibatnya, banyak karyawan merasa wajib masuk kerja saat sakit, dan menularkan penyakit menular ke rekan kerja mereka. Hal ini menyebabkan ketidakhadiran yang lebih besar dan penurunan produktivitas antara pekerja lain yang mencoba untuk bekerja saat sakit.

Kebanyakan karyawan memberikan alasan ketidakhadiran disebabkan oleh alasan medis dan membuat surat keterangan dokter atau bentuk lain dokumentasi untuk meyakinkan perusahaan dan biasanya dengan menelpon ke perusahaan agar menunjukkan itikad baik.

Penyebab-penyebab karyawan melakukan absensi :

  1. Menurut Nelson (2008) Orang yang sering melakukan absensi dikarenakan ia tidak puas dengan pekerjaan sehingga mereka sering melakukan absensi.
  2. Model psikologis yang membahas ini adalah “penarikan model”, menganggap ketidakhadiran disebabkan oleh kondisi kerja yang tidak memuaskan.
  3. Konflik antar pegawai yang terjadi di tempat kerja
  4. Bentuk protes karyawan terhadap gaji yang tidak sesuai atau tidak adanya hal-hal yang memotivasi
  5. Tingkat stress yang tinggi.
  6. Lingkungan kerja yang sebagian besar mempengaruhi individu
  7. Kesehatan pegawai
  8. Kemampuan fisik pegawai

Sumber : http://www.kumpulanistilah.com

Awas! Mesin Absensi Penular Kuman

Setiap lembaga atau perusahaan pasti menginginkan pencatatan kehadiran pegawainya secara valid, terintegrasi dan cepat. Salah satu cara yang digunakan adalah berupa membubuhkan tanda tangan di kertas absen dan penggunaan mesin check-clock, untuk mencatat jam kehadiran dan kepulangan. Namun Kedua sistem manual ini masih memiliki kelemahan. Seringkali terjadi ‘titip absen’ bila pengawasan tidak dilakukan saat proses absen. Istilah ‘titip absen’ sudah jamak di kalangan mahasiswa yang malas kuliah, namun takut kehadirannya kurang dari yang disyaratkan untuk mengikuti ujian.

courtesy of flicker.com
courtesy of flicker.com

Hal yang cukup menarik adalah penggunaan mesin check-clock. Saat saya bekerja di sebuah unit di lingkungan Polda Jatim, penggunaan mesin check-clock ini sering membuat jantung berdebar-debar. Pasalnya bila sampai terlambat datang, tulisan jam kedatangan akan tertera dengan tinta merah. Bahkan seorang teman yang bekerja di sebuah dealer motor, terpaksa harus mengebut di pagi hari agar kartu absensinya tidak tertera tinta merah, karena sanksinya berupa pemotongan gaji.

Setelah era digital, mesin absensi sudah menggunakan alat pemindai biometrik seperti pemindai sidik jari (fingerprint scanning), retina mata (irish scanning) dan sistem pengenalan pola lainnya (pattern recognizer). Umumnya yang sistem pemindai sidik jari yang dipakai untuk mengenali kehadiran personal di berbagai perusahaan dan lembaga seperti di gedung DPR RI dan di tempat saya bekerja.

Namun tahukah Anda, bila mesin absensi dengan pemindai sidik jari ini ternyata bisa menjadi media penularan kuman yang serius. Sebuah media yang sama yang disentuh oleh tangan orang yang berbeda-beda. Mungkin semacam salome alias satu lubang rame-rame.

Hal ini diperparah saat mesin absensi ini sudah dipakai cukup lama sehingga  bantalan silikon menipis. Akibatnya sensitifitas alat pemindai menjadi berkurang dan sering mengakibatkan kegagalan dalam mendeteksi sidik jari. Biasanya kalau sudah seperti ini, orang yang absen akan membasahi jarinya dengan air yang ditemui disekitarnya agar bisa lembab dan dapat terdeteksi. Air yang digunakan bisa dari tetesan air pembuangan pendingin ruangan (AC) atau dari rambutnya bila masih baru keramas. Celakanya bila tidak ditemukan air, beberapa orang akan menggunakan air ludahnya untuk membasahi permukaan jarinya. Ini yang menyebabkan penyebaran kuman menjadi semakin seru. Perilaku ‘menjilat jari’ untuk mensiasati gagal absen ini saya temui di 2 tempat kerja saya berbeda.

Hal lain yang dilakukan para pegawai saat gagal absen karena tangannya yang berminyak. Mereka biasanya akan menggosokkan permukaan jempol atau jari lainnya ke tembok dekat mesin absensi. Jangan heran bila tembok di sekitar mesin absen menjadi lebih dekil dan kusam karena ‘ternoda’ oleh mereka yang ‘ngelap’ jarinya sembarangan.

Saran bagi perusahaan atau lembaga yang masih menggunakan mesin pemindai sidik jari berbahan silikon, sebaiknya sediakan anti septic dan tissue di samping alat pemindai, agar penyebaran kuman melalui mesin absensi dapat dihindari. Bila pegawainya pada sakit, pasti yang repot perusahaan juga. Walaupun biaya pengobatannya sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan.

Courtesy of thesun.co.uk
Courtesy of thesun.co.uk

Sekian artikel mengenai mesin absensi kali ini. Semoga artikel ini bisa berguna untuk anda.

Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com