Setiap lembaga atau perusahaan pasti menginginkan pencatatan kehadiran pegawainya secara valid, terintegrasi dan cepat. Salah satu cara yang digunakan adalah berupa membubuhkan tanda tangan di kertas absen dan penggunaan mesin check-clock, untuk mencatat jam kehadiran dan kepulangan. Namun Kedua sistem manual ini masih memiliki kelemahan. Seringkali terjadi ‘titip absen’ bila pengawasan tidak dilakukan saat proses absen. Istilah ‘titip absen’ sudah jamak di kalangan mahasiswa yang malas kuliah, namun takut kehadirannya kurang dari yang disyaratkan untuk mengikuti ujian.

Hal yang cukup menarik adalah penggunaan mesin check-clock. Saat saya bekerja di sebuah unit di lingkungan Polda Jatim, penggunaan mesin check-clock ini sering membuat jantung berdebar-debar. Pasalnya bila sampai terlambat datang, tulisan jam kedatangan akan tertera dengan tinta merah. Bahkan seorang teman yang bekerja di sebuah dealer motor, terpaksa harus mengebut di pagi hari agar kartu absensinya tidak tertera tinta merah, karena sanksinya berupa pemotongan gaji.
Setelah era digital, mesin absensi sudah menggunakan alat pemindai biometrik seperti pemindai sidik jari (fingerprint scanning), retina mata (irish scanning) dan sistem pengenalan pola lainnya (pattern recognizer). Umumnya yang sistem pemindai sidik jari yang dipakai untuk mengenali kehadiran personal di berbagai perusahaan dan lembaga seperti di gedung DPR RI dan di tempat saya bekerja.
Namun tahukah Anda, bila mesin absensi dengan pemindai sidik jari ini ternyata bisa menjadi media penularan kuman yang serius. Sebuah media yang sama yang disentuh oleh tangan orang yang berbeda-beda. Mungkin semacam salome alias satu lubang rame-rame.
Hal ini diperparah saat mesin absensi ini sudah dipakai cukup lama sehingga bantalan silikon menipis. Akibatnya sensitifitas alat pemindai menjadi berkurang dan sering mengakibatkan kegagalan dalam mendeteksi sidik jari. Biasanya kalau sudah seperti ini, orang yang absen akan membasahi jarinya dengan air yang ditemui disekitarnya agar bisa lembab dan dapat terdeteksi. Air yang digunakan bisa dari tetesan air pembuangan pendingin ruangan (AC) atau dari rambutnya bila masih baru keramas. Celakanya bila tidak ditemukan air, beberapa orang akan menggunakan air ludahnya untuk membasahi permukaan jarinya. Ini yang menyebabkan penyebaran kuman menjadi semakin seru. Perilaku ‘menjilat jari’ untuk mensiasati gagal absen ini saya temui di 2 tempat kerja saya berbeda.
Hal lain yang dilakukan para pegawai saat gagal absen karena tangannya yang berminyak. Mereka biasanya akan menggosokkan permukaan jempol atau jari lainnya ke tembok dekat mesin absensi. Jangan heran bila tembok di sekitar mesin absen menjadi lebih dekil dan kusam karena ‘ternoda’ oleh mereka yang ‘ngelap’ jarinya sembarangan.
Saran bagi perusahaan atau lembaga yang masih menggunakan mesin pemindai sidik jari berbahan silikon, sebaiknya sediakan anti septic dan tissue di samping alat pemindai, agar penyebaran kuman melalui mesin absensi dapat dihindari. Bila pegawainya pada sakit, pasti yang repot perusahaan juga. Walaupun biaya pengobatannya sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan.

Sekian artikel mengenai mesin absensi kali ini. Semoga artikel ini bisa berguna untuk anda.
Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com


